Jumat, 19 April 2013



Seorang Syeikh hafizhullah pernah bercerita:
Seseorang memperlihatkan sebuah foto kepadaku. Ketika aku melihat foto itu, ternyata itu adalah foto seorang wanita yang penuh dandanan, putih dan cantik. Berpakaian tapi telanjang. Maka aku menghardik orang itu dan mengatakan: “Takutlah kepada Allah!! Mengapa engkau perlihatkan gambar ini kepadaku?! Apakah engkau tidak takut kepada Allah?!”
Lalu ia berkata: “Bukan demikian. Aku memperlihatkannya kepada Anda untuk memberitahukan kepada Anda, bahwa yang Anda lihat itu adalah wanita yang ada di gambar satu ini!”
Aku memperhatikan foto lain yang diperlihatkannya. Ternyata itu adalah gambar seorang wanita yang wajahnya telah menghitam. Seluruh bagian tubuhnya mulai gelap. Ia tewas terbunuh oleh suaminya sendiri. Dan amal terakhirnya di dunia ini adalah meminum khamr di satu tangan dan merokok di tangan yang lainnya.
Aku akhirnya tahu bahwa ia adalah salah satu penyanyi yang sangat populer semasa hidupnya. Semoga Allah melindungi kita dari yang seperti itu.
Sangat jauh perbedaannya antara wanita itu dengan seorang gadis tetanggaku. Benar sekali, ia adalah tetanggaku dalam satu lingkungan di mana aku tinggal. Ayahnya adalah seorang yang shaleh. Tidak pernah meninggalkan shalat di masjid sekalipun. Gadis itu berusia 24 tahun.
Ia sangat bahagia dengan pekerjaannya sebagai guru, meskipun tempat mengajarnya jauh dari rumahnya. Ia dan beberapa kawannya biasa pergi ke tempat kerjanya dengan menumpang sebuah mobil yang mereka sewa. Mereka pergi bersama dan pulangpun bersama-sama.
Sebelum bulan Ramadhan tahun 1424 H, keluarganya dikejutkan dengan perkataan yang diucapkannya. Ia mengatakan kepada mereka – sebelum bulan Ramadhan-: “Jika aku mati, maka janganlah kalian bersedih atasku, karena aku menyerahkan semua yang kukerjakan ini untuk Allah, sebab aku mengajarkan ilmu.”
Ia selalu keluar dengan mengenakan hijabnya yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kakinya.
Sebelum kematiannya, ia telah meminta kepada ayahnya untuk mengajaknya ikut serta mengerjakan shalat Jum’at. Maka sang ayahpun membawanya, dan itu terjadi di pertengahan bulan Ramadhan.
Dua hari setelah hari Jum’at itu. Tepatnya hari Senin, 15 Ramadhan 1424 H, ia keluar dari rumahnya dalam keadaan berpuasa, dan hal terakhir yang ia kerjakan adalah membangunkan salah seorang kawannya untuk menunaikan shalat Subuh.
Di sepanjang jalan dalam mobil menuju tempat kerjanya, ia membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, dan ketika ia meninggalpun, mushaf itu masih ada di tangannya!! Ia mengalami kecelakaan hingga meninggal, dan ia meninggal dunia dalam keadaan seperti itu.
Ia meninggal pada hari Senin di bulan Ramadhan. Persis seperti ia dilahirkan pada hari Senin di bulan Ramadhan pula!
Ia meninggal setelah menunaikan shalat Subuh. Ia tidak tidur setelah subuh untuk membaca Al-Qur’an hingga tiba waktu untuk bekerja.
Ia meninggal setelah ia berdakwah pada hari itu dengan mengajak kawannya untuk mengerjakan shalat.
Ia meninggal dan Al-Qur’an ada di tangannya.
Ia meninggal, dan ketika mereka mengeluarkan jasadnya dari kendaraan, mereka mengatakan:”Demi Allah, ketiak kami mengeluarkannya dari mobil itu dan meletakkannya dalam ambulan, tidak ada sedikitpun bekas luka atau memar di tubuhnya!”
Ia memang selalu mengenakan celana panjang di balik hijab yang menutupi tubuhnya, dan berkata: “Jika Allah menakdirkan aku mati, maka tidak ada yang dapat melihat auratku. Jika ALlah menakdirkan aku mati, maka tidak ada yang dapat melihat auratku.”
(Syeikh yang bercerita itu menangis, lalu melanjutkan kisahnya):
Ia meninggal persis seperti yang ia idamkan. Ayahnya hampir saja gila mendengar kematiannya. Ketika ia melihatku masuk untuk menyampaikan takziah kepadanya, ia memelukku. Dan di depan banyak orang, ia menangis tersedu-sedu dan berkata:”Inilah anakku yang paling berbakti, wahai Muhammad!”
Selamat untuknya dengan semua Al-QUr’an yang ia baca, keberbaktiannya pada orang tuanya, dakwahnya, puasanya, dan kematian di bulan Ramadhan itu, semoga Allah merahmatinya.
Berbekallah segera, karena
Tiada yang menemani dalam kubur selain apa yang pernah dikerjakan
Jika engkau sibuk dengan sesuatu,
Maka janganlah sibuk selain dengan apa yang diridhai ALlah
Karena tiada yang menyertai seorang setelah kematiannya
Ke alam kuburnya selain apa yang ia amalkan
Ingatlah seorang itu hanya tamu dalam keluarganya
Singgah sebentar, lalu setelah itu ia harus pergi
 
 Sumber: Chicken Soup for Muslimah, Hikmah dan Inspirasi bagi Muslimah
Sukses Publishing Juli 2012


Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.
Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.
Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.
Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.
Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:
Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.
Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”
Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)
Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:

Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?
Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)

Sumber :  www.KisahMuslim.com
dipublikasi ulang oleh : www.PustakaSalafiShop.Blogspot.com


HADIRILAH TABLIGH AKBAR

Bersama:
FADHILATUSY SYAIKH ABDURRAZZAQ BIN ABDUL MUHSIN AL AL BADR-hafidzohumallah-

(Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah dan pengajar tetap di masjid Nabawi Madinah An Nabawiyyah)

Dengan tema :
CINTA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Insya Allah akan diselenggarakan pada,
Hari : Ahad, 10 Jumadil Akhir 1434 H / 21 April 2013
Jam : 09.00 – 11.30 WIB
Tempat : MASJID ISTIQLAL Jakarta Pusat

Terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimah

Informasi : (021) 8233661 , 081823 6543 , SMS 081989 6543

Penyelenggara : Radio Rodja | Rodja TV
Bekerjasama dengan: Salam Dakwah | Nashirus Sunnah


Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan,
“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:
Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)
Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”
“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)
Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”
“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Sumber : www.kisahmuslim.com dipublikasikan ulang oleh: www.pustakasalafishop.blogspot.com

Kamis, 27 Desember 2012




IBUNDA PARA ULAMA
Haga : Rp 32.000
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Penulis : Sufyan bin Fuad Baswedan MA

Pernahkah pembaca mendengar tentang Anas bin Malik, Abdullah bin Zubeir, dan Umar bin Abdul Aziz? Bagaimana pula dengan Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauri, Imam Syafi’I, dan Imam Malik…?
Tentunya, nama-nama mereka demikian akrab di telinga kita. Sepak terjang mereka pun demikian luar biasa dan menjadi buah bibir di mana-mana… bukan saja di zaman mereka, namun sampai hari ini pun mereka masih menjadi panutan dan idola.
Mereka bukanlah para Nabi atau Rasul yang mendapat wahyu dan bimbingan ilahi. Mereka adalah manusia biasa yang lahir dari rahim kaum wanita. Mereka juga memiliki orang tua seperti kita, dan bisa salah maupun lupa seperti laiknya manusia biasa…
Akan tetapi, apa yang menjadikan mereka luar biasa? Siapakah insan-insan teladan dan tangan-tangan cekatan yang mendidik mereka? Anda mungkin berkata bahwa mereka adalah para ayah yang mulia… Anda tidak keliru, tapi jawaban ini tidak tepat. Sebab, banyak dari mereka yang terlahir sebagai yatim, atau tidak lama bersua dengan sang Ayah di masa kecilnya.
Mereka adalah segelintir dari para ulama hasil didikan Sang ibunda. Bagaimana ibunda mereka mendidik sang buah hati? Bagaimana mereka menanamkan nilai-nilai keislaman dan norma-norma agama kepada puteranya? Bagaimana mereka mencurahkan waktu, tenaga, dan biaya untuk itu semua?
Tak banyak buku yang mengulas tentang itu. Karena sejarah memang tidak banyak bercerita tentang kaum wanita dan peran mereka. Buku inilah satu-satunya yang akan menjawab berbagai pertanyaan tadi. Buku ini mengumpulkan mutiara hikmah para ibunda yang tercecer di tengah ratusan biografi para ulama.
Bacalah… dan resapi kedalaman ilmu mereka. Rasakan… bagaimana ketulusan mereka dalam menasehati, dan terapkan itu semua dalam kehidupan Anda sehari-hari. Karena penulis bukan saja bercerita tentang ulama tempo dulu yang telah wafat belasan abad lalu, akan tetapi banyak juga ulama masa kini yang dididik oleh para ibunda yang istimewa itu.
Temukan itu semua dalam buku ini…. Dan selamat membaca 

Sabtu, 08 Desember 2012

buku islam online murah






Perjalanan Para Ulama Menuntut Ilmu
Harga : Rp 38,000
Penulis : Abu Anas Majid al-Bankani
Penerbit Darul Falah

Buku islam murah kali ini mengisahkan tentang perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu nyaris sulit dicari tandingannya di masa kini. Betapa gigihnya para shahabat, tabi'in, tabiut tabi'in, dan para mujaddid abad ini dalam menuntut ilmu. Inilah beberapa penggalan kisah tersebut:



Abu Ad-Darda‘, “Kalau aku menemukan satu ayat dalam Al-Qur'an dan tidak ada orang yang bisa menerangkannya kepadaku, kecuali seorang yang tinggal di tempat yang sangat jauh sekali, aku akan turut dia”.



Sesungguhnya Sa'id bin Al-Musayyab pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.



Imam Malik merasakan pedihnya kemiskinan. Saking luasnya menuntut ilmu, hingga mengurangi atap rumahnya; dia menjual kayunya. Kemudian, dunia jauh darinya.



Tidak seorang pun pada zaman Ibnul Mubarak yang lebih gigih dalam menuntut ilmu selain dirinya. Dia pergi ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah, dan Kufah. Dia adalah termasuk orang yang meriwayatkan ilmu dan pantas untuk itu. Dia belajar dari yang tua maupun yang muda.



Yahya bin Ma'in adalah seoarang imam dalam al-jarhu wa ta'dil (ilmu mengenai kecacatan dan kebenaran riwayat suatu hadits). Seorang yang telah sampai pada puncak ilmu hadits pada zamannya. Ia menghabiskan 1.050.000 dirham dalam mencari hadits hingga tidak ada yang ia miliki selain sandal yang dipakai.



Al-Bukhari Rahimahullah pergi menemui para ahli hadits yang ada di penjuru dunia. Dia belajar ke Khurasan, pegunungan, kota kota di sekitar Irak seluruhnya, Hijaz, Syam, Mesir, dan dia datang ke Irak beberapa kali. Al-Bukhari berkata, “Aku belajar kepada 1.000 guru dari kalangan ulama, bahkan lebih. Aku tidak mempunyai satu hadits pun, kecuali kusebutkan sanadnya.”



Lantas bagaimana halnya upaya Anda dalam menuntut ilmu? Insya Allah, buku ini memberikan motivasi bagi kita untuk lebih bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Karena ilmu adalah cahaya dan jalan utama bagi datangnya hidayah Allah Azza wa Jalla









BUKU CARA CEPAT MEMBACA DAN MENERJEMAHKAN KITAB GUNDUL METODE AL ANKABUT
Penulis : Abu Syifa, Lc.
Penerbit: MEDIA HIDAYAH
Harga Jual : Rp15.000,00

Karakteristik Metode Al-Ankabut Metode ini mempunyai ciri khas, yaitu:

1. Mudah Metode ini dirancang agar seorang bisa belajar bahasa Arab dengan mudah dan sederhana. Dalam metode ini pelajar tidak dibebani pekerjaan menghafal definisi-definisi atau ta'rifaat tetapi definisi itu akan dihasilkan dari pemahaman pelajar.

2. Menyenangkan Metode ini menerapkan pembelajaran yang santai dan ringan sehingga tidak menjadi beban bagi pelajar.

3. Cepat Metode ini dirancang agar seorang bisa membaca kitab gundul secara cepat dengan asumsi bahwa sebenarnya bahasa Arab itu secara gramatikal sudah baku, tidak ada perubahan dan tidak terpengaruh dengan gramatikal bahasa lain. Jadi, sebenarnya yang harus diajarkan kepada pelajar adalah sederhana dan sudah baku. Oleh karena itu, dalam metode ini, hal-hal yang dirasa jarang digunakan dan jarang muncul dalam membaca kitab gundul tidak diajarkan kepada pemula karena belum perlu dan bisa ditunda penyampaiannya. Yang diajarkan adalah bahasan-bahasan yang penting saja, yang memang diperlukan dalam membaca kitab gundul.

4. Cerdas atau smart . Metode ini menggunakan sistem cerdas dalam memilih materi bagi peserta dan cara pengajaran. Seorang muslim pada dasarnya cerdas sedangkan orang kafir sepandai-pandai mereka adalah bodoh dikarenakan kekafiran mereka pada Rabb mereka.

5. Power of Teaching Metode ini banyak bertumpu pada kekuatan cara pengajaran seorang guru, bukan hanya sekedar pada buku panduan. Buku panduan tidak akan banyak berguna tanpa ada pengajar yang memahami dan berpengalaman dalam metode ini. Belajar dengan guru adalah sunnah salafusshalih. Belajar pada seorang guru bukan hanya mengambil ilmu yang dimiliknya, tetapi belajar juga sistematika dan teknik pengajarannya. Dengan cara tersebut seorang murid bisa mengambil dan menyempurnakan cara pengajarannya.

Selasa, 04 Desember 2012




Penulis : Kholid Syamhudi, LC. 
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi 
Harga : Rp 21.000
Halaman : 112 
Ukuran 14 x 20,5 cm

Multi Level Marketing (MLM) adalah sebuah jenis bisnis yang sudah lama menjamur di Indonesia. Dengan mengandalkan sistem jaringan dan keuntungan-keuntungan bisnis ini, membuat MLM cepat menyebar dan diterima oleh masyarakat. Bisnis ini pun berkembang pesat hingga kita jumpai begitu banyak perusahaan MLM, termasuk di dalamnya MLM yang menyandarkan kepada sistem Islami.

Namun di tengah booming-nya bisnis MLM ini, ternyata ada yang berpendapat bahwa bisnis ini hukumnya HARAM?!  Bagaimana ini bisa terjadi? Apa alasan mereka mengHARAMkannya? Apa dalil-dalil mereka? Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Temukan semua jawabannya dalam buku ini!



Beginilah Kepribadian Seorang Muslim
Penulis: Syaikh Ali Hasan al-Halabi
Penerbit: Darul Ilmi
Harga : Rp 25.000
Berat : 150 gram

Seorang pribadi muslim yang sejati, selalu menjadikan Al-Qur'an & As-Sunnah sebagai pedoman hidupnya, di manapun ia berada hatinya selalu tertaut dengan masjid sebagai tempat ibadahnya...

Buku ini berisi 40 hadits shahih (atau hasan( dari sabda-sabda Nabi Muhammad SAW. Saya (penulis) mengumpulkannya sebagai peringatan untuk diri pribadi dan untuk saudara-saudara seiman.

Buku ini mengandung tarbiyah jiwa, pensucian hati, dan pembersihan akhlaq. Penaku ini tidak lain untuk menuliskan perkataan-perkataan sederhana guna menjelaskan hal-hal yang kurang dipahami dan menerangkan makna yang dimaksud, dengan tetap memperhatikan hubungan antara hadits-hadits tersebut dengan bab-babnya sambil memberikan komentar singkat tentang hadits-hadits tersebut.

Bukan rahasia bagi manusi, bahwa agama Islam yang mulia telah memberikan perhatian yang begitu besar di dalam banyak nash-nashnya, baik nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah untuk membangun kepribadian seorang muslim, serta mengarahkannya dengan arahan yang sangat mendasar yang lahir dari intisari ajaran-ajaran Islam, juga dari pokok hukum-hukum dan syariat-syariatnya.

Kami mengajak, agar pribadi kita selalu diselimuti indahnya Tuntunan Ilahi. Agar dunia yang pekat dan perih ini terasa sejuk nan harum disetiap letih dan lelahnya langkah kaki.

Semoga Allah menutup nafas kita, saat pribadi indah mempesona itu masih melekat di jiwa. Amin...

Selasa, 27 November 2012







HATI KALIAN SUDAH MATI

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di kota Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya, Wahai Abu Ishaq, Allah berfirman di dalam kitab suci-Nya,


ادعوني أستجب لكم
 
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”.

(Q.S. Ghaafir: 10)

Sementara kami selalu berdoa semenjak lama, tetapi tidak kunjung dikabulkan.

Lalu, Ibrahim berkata,

Wahai warga Basrah, hati kalian sudah mati dalam sepuluh hal:

1.Kalian mengenal Allah, tetapi tidak mau menunakan hak-Nya.

2.Kalian membaca kitabullah, tetapi tidak mau mengamalkannya.

3.Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.

4.Kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tetapi kalian akur dengannya.

5.Kalian mengatakan cinta kepada surga, tetapi tidak mau beramal menuju ke sana.

6.Kalian mengatakan takut kepada neraka, tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian kepadanya.

7.Kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

8.Kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.

9.Kalian memakan karunia Rabb kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.

10.Kalian mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.



[ Hilyatul Auliya` wa Thabaqatul Asyfiya`. Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Asfahani. Beirut: Darul Kitab Al-Arabiy (cetakan IV, tahun 1405 H). Juz 8, halaman 15 via software Makatabah Syamilah]








Buku Pintar Masjid
Penulis : Syaikh 'Abdullah bin Shalih  al-Fauzan
Penerbit : Pustaka Imam asy-Syafi'i
Harga : Rp 60.000


Membangun masjid dengan tujuan mencari ridha Allah Ta'ala adalah perbuatan mulia. Namun, memakmurkannya dengan berbagai aktifitas ibadah di dalamnya dan menjaga adab-adab serta menegakkan hukum-hukumnya tidaklah kalah pentingnya. Sebab masjid didirikan bukan untuk tujuan lain kecuali beribadah kepada Allah Ta'ala.
Agar dapat memakmurkan masjid dengan benar, umat Islam harus belajar ilmu tentang seluk beluk hukum dan adab-adab di masjid. Dalam hal ini telah banyak ulama Muslimin yang menuangkan buah pena mereka dalam sebuah buku yang menginformasikan tentang masjid dan sebagainya.
Buku ini ditulis untuk menyampaikan keprihatinan penulisnya terhadap fenomena masjid dan umat Islam akhir-akhir ini sekaligus memberikan penyuluhan terhadap umat Islam dalam urusan masjid mereka. Penulis melihat umat Islam membangun dan mendatangi masjid karena faktor budaya dan rutinitas yang kosong dari semangat dan makna. 
Buku ini diharapkan dapat membantu mereka memperbaiki kondisi umat ini dan mengembalikan fungsi masjid dan kemuliaannya sebagaimana dulu di zaman salafus shalih sehingga pengaruhnya dapat dirasakan dalam kehidupan umat ini. Wallahu A’lam ...
Selamat membaca!

Senin, 26 November 2012







Fathul Baari
Harga : Rp 1,100,000 /set

             Rp 110.000/Jilid
             10 Jilid  
Penerbit : Pustaka Imam asy-Syafii
Jilid 1 : Kitab Wahyu & Iman 
Jilid 2 : Kitab Ilmu  
Jilid 3 : Kitab Wudhu  
Jilid 4 : Kitab Mandi, Haidh & Tayammum  
Jilid 5 : Kitab Shalat  
Jilid 6 : Kitab Waktu-waktu Shalat & Adzan  
Jilid 7 : Kitab Adzan, Shalat Berjama'ah & Imamah  
Jilid 8 : Kitab Adzan, Sifat Shalat  
Jilid 9 : Kitab Shalat - Jum'at, Khauf & 'Ied  
Jilid 10 : Kitab Shalat - Witir, Istisqo, Gerhana, Qashar dan Sujud Tilawah

Tidak diragukan lagi bahwa kitab Shahiihul Bukhari merupakan kitab hadits paling otentik di muka bumi ini. Penulisnya, Imam al-Bukhari, hanya mencantumkan hadits-hadits shahih di dalamnya dengan syarat-syarat periwayatan (transmisi) yang begitu ketat. Bahkan, untuk memantapkan pilihannya beliau tidak segan-segan untuk shalat Istikharah dua rakaat setiap akan mencantumkan haditsnya di kitabnya itu sebagai bukti keseriusan dan pertanggungjawaban beliau di hadapan Allah Ta'ala. Maka sangatlah wajar apabila kitab ini dinobatkan sebagai kitab yang kandungannya paling otentik setelah kitab suci al-Qur-an. Dan, pantaslah kiranya setiap usaha untuk melemahkan kitab ini selalu terbantahkan.

Ribuan hadits terkandung di dalamnya. Beberapa di antaranya sangat sulit bagi orang awam untuk memahami maknanya, lebih-lebih menyelaminya. Padahal, dari awal sampai akhir, kitab ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran dan faedah yang sangat berguna bagi kehidupan seorang Muslim dan umat manusia secara keseluruhan. Tidak hanya dalam masalah ‘aqidah dan ibadah, spektrumnya merambah juga ke masalah etika, sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya. Tentunya dalam koridor Sunnah Nabawiyyah.

Nah, bagaimana kiranya jika buku sekaliber Shahiihul Bukhari ini dijabarkan lafazhnya, kalimatnya, dan maknanya? Tentunya akan lebih deskriptif, lebih analitik, lebih mudah dipahami, dan manfaatnya pun lebih meluas ke banyak orang.

Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang ulama hadits bergelar al-Hafizh (773 - 852 H) yang
terkenal ahli dalam bidang periwayatan, telah mengukuhkan semua itu dalam sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul Fat-hul Baari Syarhu Shahiihil Bukhari. Kitab ini merupakan magnum opus beliau dalam bidang hadits yang paling tersohor. Kredibilitas dan kapabilitas beliau dalam mengulas dan menganalisis satu persatu hadits dari kitab Shahiihul Bukhari sangat tuntas, lengkap, dan memukau sehingga tidak menyisakan ruang bagi orang lain untuk memberikan komentarnya. Pantaslah jika buku ini digelari dengan Laa Hijrata Ba’dal Fath yang artinya tidak perlu menengok ke kitab lain jika telah ada Fat-hul Baari.

Sekarang, alhamdulillah, kitab yang disebutkan itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan, buku yang berada di tangan pembaca ini adalah hasilnya.

Jumat, 23 November 2012








Inilah Faktanya
Penulis Dr. 'Utsman bin Muhammad al-Khamis 
Jumlah Halaman 420 halaman
Harga : Rp50.000


Sejarah Islam tidak bisa lepas dari sejarah para Sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Salah dalam memahami peristiwa sejarah pada masa mereka tentu akan menyebabkan kekeliruan dalam menafsirkan peristiwa sejarah pada masa-masa berikutnya.
Buku ini menghadirkan pembahasan sejarah pada masa tujuh khalifah setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam . Diungkap dengan gaya berbeda, buku ini mencoba meluruskan pemahaman kita selama ini terkait sejarah Islam khususnya pada era Sahabat, termasuk cara yang ideal dalam membaca sejarah Islam.
Peristiwa-peristiwa penting yang jarang diungkap mulai era kekhilafahan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al-Hasan, Mu’awiyah, hingga Yazid dipaparkan secara gamblang di dalamnya. Keberhasilan mereka dalam memimpin umat Islam saat itu dijelaskan dengan lugas. Konflik-konflik yang selama ini diisukan terjadi di antara mereka juga dibahas beserta bantahan-bantahannya. Paradigma keshalihan para Sahabat diterangkan secara jelas di dalam buku ini.
Tidak kalah pentingnya, buku ini juga meluruskan kesimpangsiuran masalah suksesi kepemimpinan sepeninggal Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Termasuk konspirasi Yahudi dalam pembunuhan ‘Utsman yang menjadi cikal bakal pemberontakan pada masa-masa berikutnya.
Dengan membaca buku ini, kita akan sadar betapa kita perlu bersikap kritis dalam membaca peristiwa-peristiwa sejarah, terutama yang bertendensi negatif terkait kehidupan para Sahabat yang telah mendampingi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dalam mendakwahkan agama ini.










Begini Seharusnya Menjadi Guru
Penulis Fu'ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub
Penerbit Pustaka Darul Haq
Harga : Rp24.000



Profesi sebagai pendidik adalah posisi sosial yang paling strategis dalam sebuah sistem, memiliki kedudukan yang tinggi dan utama dalam Islam. Guru adalah ujung tombak gerakan perubahan. Di pundak seorang guru terpikul tanggung jawab yang agung yaitu membentuk generasi dan mengarahkannya kepada jalan Allah. Yang penting untuk digarisbawahi, salah satu kewajiban asasi seorang pendidik adalah membersihkan nilai-nilai negatif dan virus-virus jahiliyah dari materi yang diajarkannya. Sebagai seorang guru, Anda harus senantiasa ingat bahwa apa yang Anda ajarkan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah, dan jangan sampai predikat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dengan imbalan kecil, akan ditambah dengan azab di akhirat.
Umat ini menggantungkan harapan yang besar akan masa depan generasi muda kepada Allah melalui sentuhan lembut didikan dan pengajaran Anda. Umat telah menyerahkan miliknya yang paling berharga dan tambatan jiwa mereka yang tak ternilai kepada Anda. Maka takutlah kepada Allah dalam mendidik putra putri kaum Muslimin, jangan sekali-kali Anda mengajarkan mereka sesuatu yang tidak diridhai Allah, karena itu akan membuahkan keterlanjuran negatif yang menakutkan. Didiklah mereka dengan Agama Allah dan tempuhlah metode yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalam buku ini, Anda bisa dapatkan metodologi mendidik yang penuh teladan, selamat, dan lurus yang diambil dari contoh-contoh sikap dan tindakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendidik para sahabat radhiallahu 'anhum. Ingat, bahwa metode yang baik, bisa jadi lebih berpengaruh daripada kuatnya materi. Dan kedua komponen ini tampil padu dalam buku yang ada di tangan Anda, kami persembahkan untuk setiap orang tua dan khususnya para pendidik serta akademisi. Selamat membaca!! 


Kamis, 22 November 2012







Meniru Sabarnya Nabi
Penulis : Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi
Tebal : 180 hlm
Harga : Rp 26.000



Sabar adalah menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sungguh sangat membahagiakan, jika sabar itu hadir dalam diri kita, namun betapa mengerikan jika sabar itu pergi dari diri kita. Bayangkan, suatu sosok yang besar nan kokoh, akan tampak berwibawa dan anggun ketika mengenakan mahkota kesabaran. Sentuhannya terasa lembut dan tutur katanya terasa halus.

Berbeda sekali ketika mahkota kesabaran sudah tidak bertengger lagi di dalam hatinya. Kelembutan dan kehalusannya akan berubah menjadi sosok yang mengerikan. Itulah perbedaaan antara sosok yang dikemas dengan kesabaran dan sosok lainnya.

Sulitkah untuk bersabar? Sama sekali tidak. Buku yang ditulis oleh seorang ulama yang terkenal pada zaman ini, berpijak di atas Manhaj Salafush shalih, yaitu Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali akan memandu kaum muslimin untuk meraih sikap yang mulia disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yaitu Sabar.

Maukah Anda meraih pahala tanpa batas? Lalu, bagaimana cara meraihnya? Temukan segera jawabannya pada buku ini!

Selamat Menyimak

Minggu, 18 November 2012








Harta Haram & Muamalat Kontemporer
Penulis : DR. Erwandi Tarmizi
Penerbit : Berkat Mulia Insani Publishing
Harga : Rp 140.000


Buku ini merupakan buku yang sangat dibutuhkan umat islam. Buku ini berisi jawaban atas persoalan-persoalan muamalat (jual beli) yang sangat rumit. Membahas berbagai transaksi-transaksi haram dimasa kini, baik dilembaga keuangan, bank, asuransi serta pasar modal dalam bentuk riba atau gharar, atau korupsi serta sogok menyogok di instansi pemerintahan.

Buku ini juga membahas praktis haram di dunia niaga, marketing, MLM, Iklan, diskon, promo, penjualan produk yang bercampur gelatin, formalin, alkohol dan produk lainnya.

Berbagai permasalahan muamalat dipaparkan dalam metode yang ilmiah dilengkapi sumber-sumber dari Al-Quran dan Sunnah serta fatwa-fatwa lembaga fiqih internasional dengan disebutkan pendapat yang terkuatnya dan solusi agar sebuah transaksi haram menjadi halal.

Buku ini juga berisi himbauan kepada umat islam untuk membersihkan harganya dari hasil haram serta menjelaskan tatacara pencucian harta haram sehingga seorang muslim akan benar-benar bersih ketika menghadap Allah nantinya








YASINAN

Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Harga : 15.000,00
Penerbit : Media Tarbiyah Bogor


Yasinan???
Adakah Yasinan dalam islam?
Lalu bagaimana drajat hadits-hadits yang menerangkan tentang Surat Yasin?
Apakah kita disunnahkan membacanya atau bahkan menyelisihi sunnah itu sendiri jika kita membacanya?
Semoga buku kecil ini bisa memberikan hujjah kepada kaum muslimin dan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shalatu a'laihi wa Salam..








FAWAIDUL FAWAID
Penulis : Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
Harga : Rp120.000
Penerbit : Pustaka Imam As-syafii



Islam, ajaran yang sarat hikmah dan pesan-pesan agung bagi kehidupan lahir dan batin manusia. Setiap ibadah fisik yang diajarkannya selalu membawa pesan-pesan batin, dan setiap pesan batin yang dibawanya selalu menuntut perwujudan secara fisik.

Laksana samudera yang luas nan dalam, buku ini menghadirkan pe­tualangan dan pergulatan spiritual yang penuh pengetahuan, hikmah, kearifan, dan pesan luhur yang terkandung dalam ajaran Islam. Semua itu disuguhkan dengan pemaparan yang mendalam dan menyentuh sisi-sisi batin Anda. Kebutuhan batin Anda akan dipenuhi dengan hikmah-hikmah di balik ajaran tauhid dan makrifatullah. Lalu, wawasan dan pe­mahaman Anda tentang al-Qur-an dan as-Sunnah akan diperkaya dengan pembahasan tafsir beberapa surah, penjelasan hadits, dan kaidah fikih yang tidak ditemukan di sembarang buku.

Kalbu Anda juga akan dipertajam oleh pembahasan hati dengan berbagai amalannya; dan karenanya Anda akan menyadari bahwa ajaran Islam bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga mencakup amalan hati yang sering kali diabaikan. Khazanah buku ini semakin lengkap dengan pemaparan potret hidup orang-orang Shalih dan mutiara hati yang terangkum dalam petuah-petuah bijak.

Dengan menyelami buku ini, insya Allah pemahaman kita tentang hakikat ubudiyah menjadi sempurna; dan, pelita hati yang tercerahkan dengannya akan menyinari perjalanan kita menuju Allah. Telaahlah buku ini dalam-dalam. Renungilah setiap hikmah dan pesan di dalamnya perlahan-lahan. Sebab semakin dalam perenungan kita, semakin bercahaya hati kita, dan semakin dekat jarak penelurusan kita untuk menggapai kebahagiaan hakiki








Kenapa Harus Shalat
Penulis: DR. Muhammad Al-Muqaddam
Ukuran: 20.0 x 14.0 cm ; 256 hal
Harga: Rp 35.000,00



Apakah shalat yang Anda dirikan selama ini menjelma sekadar aktivitas rutin yang kering makna? Tak usah gusar! Banyak kaum Muslimin—selain Anda—yang yang merasakan gejala demikian. Wajar, perintah shalat yang diajarkan orang-tua dan pendidik kita seringkali tanpa diiringi alasan yang bisa diterima, selain sekadar sebuah perintah langit yang mengakibatkan dosa bila ditinggalkan. Itu saja.

Buku ini menjelasakan detil alasan mengapa kita harus rukuk dan sujud setiap hari. Di samping memang karena perintah langit, shalat memiliki kedudukan istimewa dan keutamaan yang membedakannya dengan ibadah-ibadah lain. Tapi jangan coba-coba meremehkan. Ancamannya serius: mulai dari terjebak kepada sifat nifak, hingga ancaman mati dalam keadaan su’ul khatimah.

Tak lupa, Penulis juga menyertakan untaian nasehat berprice yang dapat menyadarkan kita arti penting, sekaligus meningkatkan kualitas shalat itu sendiri. Sehingga, pelaksanaan shalat menjadi lebih bermakna daripada sekadar rutinitas belaka. Lebih dari itu, buku ini juga pantas Anda hadiahkan untuk mereka yang masih enggan shalat.








Kenapa Harus Shalat
Penulis: DR. Muhammad Al-Muqaddam
Ukuran: 20.0 x 14.0 cm ; 256 hal
Harga: Rp 35.000,00



Apakah shalat yang Anda dirikan selama ini menjelma sekadar aktivitas rutin yang kering makna? Tak usah gusar! Banyak kaum Muslimin—selain Anda—yang yang merasakan gejala demikian. Wajar, perintah shalat yang diajarkan orang-tua dan pendidik kita seringkali tanpa diiringi alasan yang bisa diterima, selain sekadar sebuah perintah langit yang mengakibatkan dosa bila ditinggalkan. Itu saja.

Buku ini menjelasakan detil alasan mengapa kita harus rukuk dan sujud setiap hari. Di samping memang karena perintah langit, shalat memiliki kedudukan istimewa dan keutamaan yang membedakannya dengan ibadah-ibadah lain. Tapi jangan coba-coba meremehkan. Ancamannya serius: mulai dari terjebak kepada sifat nifak, hingga ancaman mati dalam keadaan su’ul khatimah.

Tak lupa, Penulis juga menyertakan untaian nasehat berprice yang dapat menyadarkan kita arti penting, sekaligus meningkatkan kualitas shalat itu sendiri. Sehingga, pelaksanaan shalat menjadi lebih bermakna daripada sekadar rutinitas belaka. Lebih dari itu, buku ini juga pantas Anda hadiahkan untuk mereka yang masih enggan shalat.